Pages

ATAS DASAR NASIONALISME


Tepat hari ini, 17 Agustus 2015. Indonesia sudah memasuki umur 70 tahun. Angka yang terbilang tua untuk masalah umur. Angka yang bisa dibilang sudah banyak merasakan segala rasa yang ada di dunia ini. Dijajah oleh belanda, dibodohi oleh Jepang, dan lain sebagainya. Membuat negara ini terlalu banyak merasakan kepahitan.

Tak mudah saat itu untuk menyatakan bahwa Indonesia merdeka. Banyak pertentangan dari berbagai pihak, baik dari luar maupun dari bangsa kita sendiri. Kebimbangan melanda rakyat Indonesia saat itu. Keinginan untuk merdeka adalah harga mati. Tapi saat itu muncul berbagai cara. Diberikan kemerdekaan oleh Jepang, atau membuat kemerdekaan sendiri atas dasar nasionalisme.


Berat memang perjuangan saat itu. Bahkan bisa dikatakan terlalu berat. Tapi yang kita rasakan saat ini, begitu besar ternyata. Kemerdekaan itu begitu terasa nilainya saat ini.

Berbicara saat ini, 17 Agustus yang diperingati oleh bangsa Indonesia dengan Hari Kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia, disambut dengan berbagai cara yang bersifat positif. Mulai dari perlombaan, yang biasa disebut agustusan, ada yang memasang bendera merah putih di rumah, dan masih banyak lagi.

Tapi taukah kita, apa makna dibalik perlombaan tersebut dan pemasangan bendera merah putih di rumah. Mari kita simak bersama ulasan berikut ini.

Perlombaan 17 Agustus

Saat ini, sudah sangat beragam perlombaan yang diadakan untuk memperingati Hari kemerdekaan. Berbagai macam aktivitas dilakukan untuk menyambut Hari Merdeka. Berikut beberapa perlombaan yang memiliki makna mendalam.

1. Lomba makan kerupuk
    Punya makna untuk mengajarkan kepada kita, bahwa betapa masyarakat saat penjajahan diterpa kesulitan sandang, pangan, dan papan. Untuk makan yang paling sederhanapun kesulitan. Karena hasil panen diambil oleh penjajah. Maka itu, mengingatkan kembali ke kita tentang sejarah masa - masa kelam bangsa ini.

2. Lomba panjat pinang
    Semangat kebersamaan dan gotong royong untuk mencapai tujuan. Terlihat saat para peserta panjat pinang berusaha untuk naik ke puncak, dengan saling gotong royong. Ditambah dengan licinnya pinang, maka membuat peserta banyak yang terjatuh lagi dan lagi. Dan kembali memanjat lagi.

3. Lomba tarik tambang
    Mengajarkan bahwa dengan menyatukan kekuatan, mampu mengalahkan lawan. Dimana dalam mencapai suatu tujuan dibutuhkan usaha, entah itu ditarik ataupun menarik.

4. Lomba balap karung
    Saat penjajahan, penderitaan yang dirasakan oleh masyarakat Indonesia terlalu berat. Hingga pakaian pun diambil oleh penjajah. Yang tersisa adalah plastik, karet, dan karung. Mau tidak mau masyarakat saat itu menggunakan karung sebagai upaya untuk menutupi tubuh. Akibatnya, timbul gatal - gatal di tubuh saat memakai karung goni. Saat kemerdekaan tiba, rakyat gembira. Sebagai bentuk pelampiasan kekesalan terhadap karung goni, maka rakyat menginjak karung.

Pemasangan Bendera Merah Putih di Rumah

Saat masa penjajahan, begitu sulitnya rakyat Indonesia untuk mengibarkan bendera Indonesia. Salah satu peristiwa yang cukup terkenal adalah Insiden Hotel Yamato. Dimana pada saat itu terjadi perobekan bendera Belanda (merah-putih-biru) menjadi bendera Indonesia (merah-putih) di hotel Yamato pada tanggal 18 September 1945. Peristiwa itu terjadi lantaran gagalnya perundingan antaran Pak Sudirman (residen Surabaya) dan Mr. W.V.Ch Ploegman untuk menurukan bendera Belanda. Itu hanya satu fakta, masih banyak fakta - fakta yang lain tentang sulitya bangsa kita untuk mengibarkan bendera Merah Putih di negeri sendiri.

Maka dari itu, pada saat ini, bertepatan dengan Hari Kemerdekaan Indonesia, di tiap tahun selalu ada warga yang memasang bendera merah putih di rumahnya. Sekalipun pemasangan bendera itu tidak lama dan membeli sebuah bendera merah putih saja butuh biaya yang lumayan, tapi tak menyurutkan niat untuk memasangnya. Karena semua ini, atas dasar nasionalisme. Padahal, perjuangan kita memasang bendera di depan rumah sangatlah tidak sebanding dengan apa yang telah diperjuangkan para pendahulu kita untuk mengibarkan bendera merah putih setinggi mungkin. Tapi sekali lagi, semua yang kita lakukan atas dasar nasionalisme.

Saya tak pernah minta untuk di lahirkan di negara ini, Indonesia. Tapi karena saya telah lahir di negara ini, maka akan saya bela mati matian negaraku, Indonesia.

Semoga dengan adanya tulisan ini, membuat kita untuk menghargai apa yang telah diperjuangkan oleh para pendahulu kita. Sekedar untuk mengikuti lomba ataupun memasang bendera merah putih di rumah adalah tindakan yang kecil dan mudah, namun berdampak sangat besar pada negara ini, Indonesia. Sebagai penutup artikel ini, berikut petikan dari lagu Indonesia Pusaka.

Indonesia tanah air beta 
Pusaka abadi nan jaya
Indonesia sejak dulu kala
Tetap di puja-puja bangsa

Di sana tempat lahir beta
Dibuai dibesarkan bunda
Tempat berlindung di hari tua 
Tempat akhir menutup mata

Sungguh indah tanah air beta  
Tiada bandingnya di dunia
Karya indah Tuhan Maha Kuasa 
Bagi bangsa yang memujanya

Indonesia ibu pertiwi 
Kau kupuja kau kukasihi 
Tenagaku bahkan pun jiwaku 
Kepadamu rela kuberi

Fariz Anshar

Perkenalkan, saya Fariz Anshar. Pria yang mencintai sepakbola dan penggemar sejati Manchester United. Dan Lenga Indonesia merupakan cara saya untuk menyalurkan kecintaan saya yang lain, yaitu menulis. Terima kasih sudah berkunjung.

3 komentar:

  1. @Firdi .K Ramadhanbukanya lewat pc ? biar sambil dengerin lagu yang ada di artikel ini

    BalasHapus
  2. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

    BalasHapus